Kenapa Harus Membayar Pajak?

Musim hujan yang ndak selese-selese sejak tahun kemaren ini telah membuat jalanan di komplek saya agak mawut, lubang di sini, genangan di sana, pokoke[tm] ndak nyaman buat lewat. Lewat pertemuan warga akhirnya disepakati untuk memperbaiki jalan yang rusak itu dengan paving blok. Total jenderal diperkirakan habis 1,5juta, dibagi 20 KK yang tiap hari melewati jalan tersebut, jadinya perkepala kebagian 75ribu rupiah.

Urunan agak seret seperti biasanya, untungnya yang jualan paving blok masih temen sendiri, bisa ngutang. Tapi yang mbikin anyel, di antara 20 KK tersebut ternyata ada 3 orang yang ndak mau mbayar, alasannya mereka ndak merasa diajak rembukan. Lhadalah, undangan sudah diberikan, kalo ternyata waktu rapat mereka ndak bisa dateng ya resiko sendiri tho, harusnya ikhlas mengikuti keputusan bersama. Lagian itu kan untuk kepentingan umum, istilahnya sodaqoh jariyah yang amalnya ndak bakal putus walau orangnya sudah meninggal.

Karena tiga orang tadi ndak mau urunan akhirnya yang 17 orang jadi ketiban sampur, urunannya naik jadi 88ribu per orang. Untungnya kok ya pada mau, walaupun mungkin level keikhlasannya jadi turun, ngasih urunan tambahan sambil misuh-misuh sama tiga orang tetangga yang ndableg itu.

“Herannya kalo yang seperti itu ribut, tapi kalo liat tetangga ndak mbayar pajek kok biasa-biasa saja.” Kata Kang Noyo menanggapi cerita saya.

Saya mengernyitkan jidat, “Maksudnya gimana tho Kang?”

“Lha iya, kan sama saja. Bedanya kalo yang di tempatmu levelnya mbangun jalan komplek, sedangkan pajak levelnya mbangun negara.”

“Yo lain tho Kang, kalo saya urunan kan terasa manfaatnya.” Bantah saya.

“Lha rumangsamu jalan raya yang tiap hari kita lewati tiap hari itu dibangun pake duit mbahmu opo?” Sergah Kang Noyo.

“Itu duit rakyat yang dibayar lewat pajek, seharusnya ada perasaan mangkel dari orang yang mbayar pajek waktu dia liat ternyata ada orang yang juga menikmati fasilitas tanpa mau mbayar pajek. Juga seharusnya ada perasaan malu saat kita menikmati fasilitas yang urunannya kita ndak mau mbayar.”

“Mungkin karena masih banyak yang dikorupsi Kang, makanya orang pada males mbayar pajek.” Kata saya.

“Alesan! Kalo pelit ya pelit saja, ndak usah pake nunjuk-nunjuk orang korupsi.” Cetus Kang Noyo sambil nyeruput kopinya.

“Lho tenan ini Kang, coba sampeyan liat jalan mulai kantor PLN sampe lampu merah Kebon Agung itu misalnya, sudah tiga tahun sejak saya mburuh di sini ya masih begitu-begitu saja, ndak mulus blas, padahal itu tengah kota. Blom lagi jalan yang ke arah Malang, tiap tahun dibetulin tapi yo masih tetep bolong-bolong. Pasti gara-gara ada oknum yang doyan makan aspal tho?” Bantah saya ndak kalah sengit.

“Yo mikirmu jangan begitu Le, coba liat jalan komplekmu itu. Misalnya warga ndak mau urunan gara-gara ndak percaya kalo orang yang dipercaya beli paving bakal jujur gimana? Ndak bakal jalan tho? Bakal tetep rusak selamanya tho?” Kang Noyo berkelit sambil dengan lincahnya menilep sebatang rokok saya.

“Tapi nyatanya yang disuruh ngerjain paving jujur kok!” Kata saya.

“Untungnya jujur, kalo misalnya ndak jujur?” Tanya Kang Noyo.

“Yo dikeplaki sama warga.” Jawab saya.

“Ya itu, harusnya begitu Le. Urunan tetep jalan tapi jangan lupa diawasi yang ngerjakan.” Kata Kang Noyo.

“Pajak juga harusnya begitu, dimulai dari niat yang baik berbakti sama negara, urunan buat kemajuan bersama. Kalo ternyata nanti ada yang nyeleweng, ya dikeplaki yang nyeleweng, jangan terus mogok ndak mau mbayar pajek, nanti ndak jalan negaranya.”

“Tapi kita kan ndak bisa ngeplaki koruptor Kang, yang bisa penegak hukum. Lha repotnya kadang penegak hukum juga ndak mau ngeplaki je. Sudah gitu DPR kita yang seharusnya ikut ngawasi malah kadang minta dikeplaki.” Ujar saya.

“Satu-satu dulu Le. Pertama penuhi kewajiban sesuai aturan, biar ndak malu kita waktu nunjuk-nunjuk dengan penuh kejengkelan gara-gara orangnya ndak patuh sama aturan.”

Saya pikir-pikir ada benernya yang diomongkan Kang Noyo. Kalo kata simbah saya dulu ini namanya ganteng-gantengan, yang paling ganteng disuruh maju. Ndak ada yang mau maju karena saling melihat satu sama lain, dan merasa yang lain lebih ganteng. Bukannya berpikir, saya lho bayar pajak, kenapa yang lain ndak? Tapi mikirnya yang lain lho ndak mbayar, kenapa saya harus mbayar pajak?

Kopi sudah tinggal sesruputan, saya liat Kang Noyo seperti orang bingung, meraba-raba kantong, “Nganu Le, kayaknya dompetku ketinggalan, tolong bayari dulu ya.”

Saya mbatin, “Sampeyan ini jangankan mbayar pajek, mbayar kopi sendiri saja ndak mau…”

Jiyan!

sumber : mas stein

Pos ini dipublikasikan di Warung Pajak dan tag . Tandai permalink.

4 Balasan ke Kenapa Harus Membayar Pajak?

  1. kira kira gitu berkata:

    Inspriratip, saya boleh mampir kan?

  2. Imam Bukhori berkata:

    alhamdulilah…
    cuma pajeg sepeda sama radio yang saya ndak pernah mbayar … 🙂

    #emang masih ada gituh?

  3. yharyanto berkata:

    ijin ngopi (paste) boleh kang ?

    #admin:
    silakan, tapi mohon ditulis sumbernya 🙂

  4. view website berkata:

    Hello there, I found your web site by means of Google whilst searching for a comparable matter, your web
    site came up, it looks good. I’ve bookmarked it in my google bookmarks.
    Hi there, just become alert to your weblog through Google, and located that it’s really informative.

    I’m gonna be careful for brussels. I will appreciate if you proceed this in future. Many other people will likely be benefited out of your writing. Cheers!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s