Mengisi Dengan Benar, Lengkap, dan Jelas

Konon suatu saat aparat pajek sedang mengecek kebenaran laporan pajek semua rumah sakit di Malang. Dari banyak rumah sakit itu ternyata hanya satu yang mengisi laporan pajeknya dengan benar, Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat atau yang lebih dikenal sebagai Rumah Sakit Jiwa Lawang. Merasa perlu memberikan apresiasi pada wajib pajak yang patuh, datanglah di aparat pajek ke Lawang dan menemui dokter kepala di sana.

“Sampeyan ini hebat sekali, mengisi laporan pajeknya benar, lengkap, dan jelas. Ngomong-ngomong siapa yang membuat SPT-nya?” Tanya si aparat pajek.

Sambil tersenyum Pak Dokter menunjuk kerumunan pasiennya, “Ya mereka itu Pak…”

Guyonan di atas diceritakan Mbah Suto waktu ngobrol sama saya di warung Mbok Darmi semalem. Seneng rasanya ketemu beliau di situ, selain bisa bersilaturahmi karena waktu lebaran belum ketemu juga karena pasti nanti saya dibayari. Maklum, hari-hari ini aroma tanggal tua sudah terasa mulai menyengat.

“Jadi maklum saja Le kalo jarang orang yang mau ngisi laporan pajeknya dengan benar, wong yang ngisi dengan bener-bener jujur itu cuma orang gila.”Kata Mbah Suto sambil terkekeh.

Lhadalah! Mosok ya begitu?

Kebetulan semalem itu saya memang ngajak ngobrol beliau soal pajek. Beberapa waktu yang lalu saya sempet melontarkan ide untuk mempublikasikan laporan pajek pejabat/calon pejabat publik. Bukan tanpa alasan tentunya, minimal sebagai salah satu tolok ukur kejujuran mereka. Kalo seseorang bisa ndak jujur di satu hal (dalam hal ini dengan mencurangi pajak) maka ada kemungkinan dia juga akan curang di hal lain.

“Trus kenapa memangnya kalo ndak mbayar pajek?” Mbok Darmi nyamber waktu mbawain kopi.

“Brarti dia ndak jujur Mbok, jangan sampe dipilih jadi pemimpin.” Mbah Suto menjelaskan.

Lha itu, memang cukup seperti itu. Waktu saya nulis itu ada seorang kawan, Mbak Ndaru, yang nanya, “lalu kalok udah dilaporin njur piye? ha wong kemaren di pengadilan itu si gayus sudah nyanyi, siapa2 aja pejabat2 polri dan kejaksaan yang ikutan pat gulipat pantat bantat di kasusnya aja ndak ada yang dipanggil ke persidangan kok.”

Ndak perlu berpikir muluk-muluk soal penegakan hukum, kita lakukan saja apa yang kita bisa. Rakyat kecil macem kita ini kan paling punya kuasa cuma saat pemilihan kepala daerah atau DPR/DPRD, kita gunakan saja itu. Biar yang suka mainan politik juga ndak cuma belajar jadi orator ulung, tapi juga belajar salah satu hal dasar, jujur.

Dengan membeberkan laporan Pajak Penghasilan selama 2 tahun terakhir saja sudah bisa dikira-kira, ini orang jujur apa ndak. Liat posisi awal harta dan hutangnya, liat berapa penghasilan yang dia dapat, trus berapa posisi akhir harta dan hutangnya, sederhana.

“Ndak sesederhana itu Le.” Ujar Mbah Suto.

“Kenapa Mbah?” Tanya saya.

“Dalam konsepmu itu paling ndak melibatkan dua hal, pengetahuan dan kepedulian rakyat soal pajek. Kalo rakyat peduli tapi ndak paham soal pajek ya percuma, rakyat paham tapi ndak peduli soal pajek juga sama saja.” Mbah Suto menjelaskan.

Menurut Mbah Suto, ada enam hal yang mempengaruhi tingkat kepatuhan seseorang dalam mbayar pajek:

  1. Kepercayaan pada sistem dan aturan pajek

    Sulit untuk membuat orang mau mbayar pajek kalo mereka berpikir aturan pajek itu ruwet, ndak membumi, dan ndak berkeadilan.

  2. Kepercayaan pada aparat pajek

    Konon paling repot itu jadi orang pajek, misalnya kaya orang-orang akan berpikir dia korupsi, kalo ndak kaya orang-orang akan bilang dia itu bodoh, lha wong jadi orang pajek kok ndak bisa kaya. Menurut Mbah Suto akan sulit nyuruh orang mbayar pajek selama mereka masih berpikir aparat pajek adalah kumpulan orang korup dan bodoh.

  3. Mencoba ambil resiko

    Dengan sistem pajek di negara kita yang orang disuruh ngitung pajeknya sendiri, akan memicu niat orang untuk iseng mencoba mencurangi pajek. Sukur-sukur ndak ketahuan, kalo pun ketahuan siapa tau masih bisa dinego.

  4. Norma sosial

    Ini juga ndak kalah penting, akan sulit mengajak rakyat menilai kejujuran seseorang dari laporan pajeknya kalo di lingkungan tersebut masih berlaku budaya ndak mbayar pajek ndak papa, yang penting iuran RT jangan sampe telat.

  5. Penerapan yang mudah

    Kemudahan dalam memahami aturan serta melaksanakan kewajiban pajek mulai dari menghitung, membayar, serta melapor juga berpengaruh pada kepatuhan pajek seseorang.

  6. Tau duit pajek yang dia bayar dipake untuk apa

    Ini termasuk paling vital. Kalo misalnya ada 10 rumah di komplek sampeyan berniat urunan mbetulin jalan, misalnya ada satu rumah yang ndak ikut urunan pasti yang lain misuh-misuh. Tapi herannya hal yang sama ndak berlaku untuk orang yang ndak mbayar pajek. Mungkin salah satu alasannya adalah mereka ndak tau duit pajeknya lari ke mana.

Mbah Suto menyalakan kreteknya, “Ndak lucu tho kalo misalnya nanti laporan pajek para pejabat sudah dipajang, trus waktu rakyat pada ngeliat ternyata mereka berpikir, lho si Pak Anu ndak mbayar pajek ternyata, sama brarti kayak saya!”

Lha?

Jiyan!

sumber : mas stein

Pos ini dipublikasikan di Warung Pajak dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s