5 ABG Jadi Tersangka Video Kekerasan di Bali

TEMPO.CO, Denpasar -Kepolisian Resor Denpasar menetapkan lima anggota geng motor Cewek Macho Performance di Denpasar sebagai tersangka pelaku kekerasan yang videonya tersebar luas di Internet dan jejaring sosial. “Di TKP saat itu ada sembilan orang, termasuk korban. Tiga orang lagi masih dalam pencarian,” kata Kepala Sub-Bagian Hubungan Masyarakat Polresta Denpasar AKP Ida Made Sarjana, Rabu, 8 Februari 2012.

Lima gadis remaja yang jadi tersangka kekerasan terhadap KA, 16 tahun, itu adalah KD, 16 tahun, OC (16), PM (17), RA (15), dan MV (16). KD ditetapkan sebagai tersangka sejak kemarin. Empat lainnya ditangkap sehari sebelumnya. Salah satu dari tiga anggota geng yang masih dicari adalah perekam aksi kekerasan itu. Kelimanya terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Kasus ini bermula pada akhir Desember tahun lalu. Saat itu korban dijemput menggunakan sepeda motor untuk bertemu dengan anggota geng di dekat sebuah rumah kos di Gelogor Carik, Denpasar Selatan. Menurut KA, anggota geng itu tersinggung dan menganiaya korban karena menjadikan jaket geng CMP itu sebagai alas kaki. Padahal korban adalah anggota junior karena baru setahun bergabung. KA juga mengaku ada masalah perebutan cowok dengan salah satu pelaku.

Dalam video berdurasi 5,37 menit berjudul Kekerasan ABG Bali itu, anggota geng tersebut tampak mengeroyok korban. Ada adegan KA ditonjok, dipukul, ditampar, dan dijambak rambutnya. Sikap memelas korban juga tak menghentikan penganiayaan itu. Bahkan pelaku juga menggunting baju dan celana korban hingga celana dalamnya kelihatan.

Video kekerasan itu direkam oleh salah satu pelaku menggunakan BlackBerry. Video itu disebarkan pelaku untuk mempermalukannya, yang ternyata justru jadi bumerang. Kelima pelaku cepat tertangkap setelah polisi melacak sepeda motor Yamaha Mio berpelat DK milik salah satu pelaku.

Sekretaris LPA Bali, Titik Suhariyanti, mengatakan anak-anak itu mengalami masalah sosial dan kepribadian. “Orang tuanya malah ada yang sudah angkat tangan dan minta anaknya ditahan untuk pelajaran,” katanya. Mereka rata-rata sudah berhenti dari sekolah dalam 1 hingga 2 tahun, dan sehari-harinya hanya luntang-lantung.

sumber : tempo

Pos ini dipublikasikan di Berita dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s