Salah Kaprah NPWP

Kata salah kaprah konon berarti kesalahan yang umum sekali sehingga orang tidak merasakan sebagai kesalahan. Hal ini bisa jadi karena ketidakpedulian dari pelaku, atau bisa juga karena adanya semacam pembiaran dari pihak-pihak yang seharusnya bertindak selaku pengawas. Kesalahan yang dibiarkan akan menjadi kebiasaan, kebiasaan yang menular akan menjadi kelaziman, dan kelaziman seringkali disalahartikan sebagai kebenaran.

Contoh yang sederhana bisa sampeyan temukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya helm, helm bagi pengendara sepeda motor berfungsi sebagai pelindung kepala dari benturan semisal terjadi kecelakaan. Tapi coba sampeyan dengar apa kata Kang Noyo waktu kemaren sore ketemu saya naik motor ndak pake helm.

“Ndak papa, wong deket kok. Ndak ada polisi.”

Lha, tenan tho. Fungsi helm ternyata sudah berubah, bukan lagi sebagai pelindung kepala tapi sebagai syarat supaya ndak ditilang sama polisi. Walaupun sebenarnya ndak pas, tapi karena sudah jadi kelaziman mungkin di benak sampeyan fungsi helm juga sama seperti yang dibilang sama Kang Noyo. Bukan cuma sampeyan, mungkin buat saya juga. *keplaki rame-rame*

Contoh lain, masih dari lingkup para pengendara motor, kaca spion. Kaca spion sebenarnya berfungsi untuk liat belakang, misalnya waktu sampeyan mau nyalip atau mau belok, meminimalkan resiko sampeyan ditubruk dari belakang. Tapi lagi-lagi fungsinya beralih, supaya ndak ditilang polisi. Akhirnya sampeyan jadi sering lihat ada spion nunduk, spion kecil, spion sebelah, ndak masalah kalo ndak bisa liat belakang, pokoknya[tm] yang penting ndak ditilang. Lagi-lagi salah kaprah.

Dalam urusan sama pajak, salah kaprah yang sering saya temukan adalah pemahaman tentang NPWP, alias Nomor Pokok Wajib Pajak.

Suatu saat ada seorang bapak datang ke kantor pajak dengan membawa sebuah surat, “Pak, saya kok dapet surat ini, maksudnya apa?”

Saya lihat perihal suratnya tentang himbauan untuk melaporkan SPT Tahunan. Saya tanya si bapak, “Dulu waktu ngurus NPWP memangnya ndak dikasih tau sama petugas soal kewajiban pajak sampeyan?”

Si bapak dengan muka bingung bilang, “Ndak tau Pak, waktu itu saya ngurusnya lewat teman, soalnya mau ngajukan kredit ke bank. Ternyata kreditnya ndak cair…”

Oh, ternyata menurut si bapak tadi NPWP adalah syarat untuk mengurus kredit di bank.

Di saat yang lain datang mbak-mbak berjilbab, “Saya mau mbikin NPWP.”

Saya tanya, “Buat apa mbak?”

“Ini mau ada bantuan untuk desa dari parpol, kebetulan saya yang ngurus, mereka minta NPWP.” Jawab si mbak.

“Monggo kalo mau mbuat NPWP, tapi sampeyan tau tho, ada kewajiban-kewajiban yang nantinya harus sampeyan laksanakan setelah punya NPWP.” Kata saya.

“Kewajiban apa? Ini kan cuma untuk pencairan dana.” Si mbaknya bingung. Menurut dia NPWP adalah syarat pencairan bantuan. Lagi-lagi salah kaprah.

Mungkin di antara sampeyan juga ada yang berpikir seperti itu. NPWP itu fungsinya disamakan dengan Surat Keterangan Kelakuan Baik yang sekarang disebut SKCK (entah apa kepanjangannya) yang perlu diurus waktu melamar pekerjaan. Setelah suratnya jadi ya sudah, ndak perlu ditengok lagi.

Memangnya NPWP itu apa tho?

Kalo sampeyan rajin mbuka peraturan, di Undang-undang Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan disebutkan :

Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.

Secara gampangnya, ada kewajiban-kewajiban yang harus sampeyan lakukan setelah sampeyan ngurus NPWP. Kewajiban pajak pada dasarnya ada dua macem, lapor dan mbayar, dan itu ada yang dilakukan secara bulanan, ada juga yang tahunan.

“Kewajiban yang terkait NPWP saya apa saja?”

Kewajiban perpajakan bisa sampeyan lihat pada Surat Keterangan Terdaftar yang menjadi satu paket dengan kartu NPWP pada saat sampeyan mendaftar.

Surat Keterangan Terdaftar

Surat Keterangan Terdaftar

Saran saya, datanglah sendiri ke kantor pajak pada saat mendaftar untuk memperoleh NPWP dan mintalah petugas untuk memberikan penjelasan tentang kewajiban perpajakan apa saja yang harus sampeyan lakukan setelah memperoleh NPWP. Atau kalo sampeyan memang sibuk silakan telepon ke kantor pajak tempat sampeyan terdaftar, minta bicara dengan acount representative yang membawahi wilayah sampeyan. Siapa tau konsultasi bisa dilakukan dengan cara yang menghemat waktu dan biaya, lewat email misalnya.

Berpikir ringkas, bersama-sama mencari solusi, monggo…

Pos ini dipublikasikan di Warung Pajak dan tag , , . Tandai permalink.

9 Balasan ke Salah Kaprah NPWP

  1. uki berkata:

    salut sama kpp pasuruan yg bikin artikel bagus gini..coba dijadiin buku terus dibagi ke sekolah kayaknya boleh juga..

  2. Arif M. berkata:

    Dulu pas jaman2nya bebas fiskal dgn nunjukin kartu npwp, di wilayah saya npwp populer dgn sebutan “pajak paspor” hehehe. Dan krn ngurusnya gampang alias gratis, dikira ga ada kewajiban di belakangnya. Yg penting bikin aja dulu, mau dipake kpn urusan ntar. Kalo hilang ya tinggal biqin lg. Toh gratis. Mungkin terdengar aneh bagi pegawai pajak (apalagi yg ga pernah tugas di lapangan), tp itulah kenyataannya pola pikir yg terbentuk di masyarakat.

  3. SHOLICHIN berkata:

    KALAU NPWP OP GA DIKASIH SKT SIH, JADI GATAU DAH…HEHE

  4. Maz Da berkata:

    WONG BODO PANGANANE WONG PINTER………..

  5. tongky berkata:

    Klo gk mau ada kwajiban di belakang setelah buat NPWP, mending gk usah buat NPWP toh. hehe..*simple

  6. totoaya berkata:

    Sekedar info untuk sampeyan SKCK itu singkatan dari Surat Keterangan Catatan Kepolisian..ok

  7. Ping balik: Waktu Itu Sampeyan Pakai Sabuk Pengaman? « mas stein

  8. Angga berkata:

    Pak Persyaratan Untuk NPWP Pribadi Apa Saja Ya.
    Saya Pegawai Swasta.
    Terima Kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s