Siasat Bersih Menekan Pajak

USAHA rugi atau untung sedikit tapi pajaknya tinggi, demikian pernyataan yang sering  terlontar dari wajib pajak orang pribadi (WPOP) yang menggunakan norma penghitungan neto. Kenapa bisa terjadi? Kenapa pula cara itu masih banyak dipilih wajib pajak sampai saat ini, bahkan peminatnya lebih banyak dari mereka yang memilih menyelenggarakan pembukuan?

Dalam memenuhi kewajiban perpajakannya, WPOP yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas wajib menyelenggarakan pembukuan {Pasal 28 (1) UU KUP}. Namun mereka yang peredaran usahanya kurang dari Rp 4,8 miliar/ tahun boleh memilih menggunakan norma penghasilan neto {Pasal 28 (2) UU KUP}.

Bagi mereka yang memilih menggunakan norma neto itu cukup mencatat peredaran atau penerimaan bruto secara teratur sebagai dasar menghitung pajak terutang. Untuk menghitung untung bersihnya cukup me-ngalikan peredaran setahun dengan persentase yang ditentukan Ditjen Pajak. Contohnya, norma penghitungan neto untuk pedagang eceran 30%, bila peredaran usahanya Rp 1 miliar maka untung bersih usahanya Rp 300 juta.

Adapun model pembukuan kadang dianggap ribet karena memerlukan keahlian khusus dan harus menggaji pegawai pembukuan. Tapi saat kita membandingkan beban pajak yang harus ditanggung,  jatuhnya lebih besar dan tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya.

Memilih menyelenggarakan pembukuan, merupakan strategi perencanaan pajak yang paling mendasar bagi WPOP guna meminimalisasi pajak terutang. Hal itu dapat dilakukan tanpa perlu menunggu peredaran usahanya mencapai lebih dari Rp 4,8 miliar.

Pernyataan usaha rugi atau untung sedikit tapi pajaknya tinggi, menjadi benar adanya karena kesalahan memilih norma penghitungan.

Jadi, pilihan untuk memudahkan diri dari segi administratif, faktanya justru membawa konsekuensi  beban pajak terutang menjadi lebih besar, karena peredaran usaha pasti dikoreksi positif saat pemeriksaan dan atas pajak yang kurang dibayar dikenakan sanksi denda 50 % {Pasal 13 (3a) KUP}.

Bahkan bila kerugian negara sangat besar, dapat menyeret wajib pajak pelakunya ke perbuatan tindak pidana fiskal (tax evation), dengan ancaman hukuman minimal penjara 6 bulan dan denda 2 kali jumlah pajak yang tidak/ kurang dibayar. Adapun hukuman maksimalnya adalah penjara 6 tahun dan denda 4 kali jumlah pajak yang tidak/ kurang dibayar {Pasal 39 Ayat 1 KUP}.

Model Pembukuan

Kenapa beralih ke menyelenggarakan pembukuan merupakan pilihan bijak dan saat ini mendesak dilakukan? Seperti diketahui, kedaluwarsanya penetapan pajak 5 tahun. Melewati masa itu tidak ada penetapan, dan pajak yang dilaporkan di SPT dianggap benar. Sebelum masa kedaluwarsa penetapan tiba, kantor pajak bekerja semaksimal mungkin agar SPT bermasalah dapat diproses sesuai ketentuan.

Makin baik dan tertibnya kerja aparatur pajak, ditunjang oleh kewajiban memberi informasi perpajakan (Pasal 41 A KUP), yaitu tiap orang wajib memberikan keterangan dengan benar dan bila tidak bisa dipidana kurungan 1 tahun atau denda paling banyak Rp 25 juta.

Kini pemerintah juga menerapkan pelaporan SPT secara elektronik atau melalui sistem e-filling yang menjadikan makin banyak data masuk ke database kantor pajak  yang dapat lebih cepat diolah untuk intensifikasi atau ekstensifikasi perpajakan. Selain itu, ada insentif  bagi pegawai diikuti pengawasan ketat.

Mengingat pelaporan SPT WPOP tahun 2011 paling lambat tanggal 31 Maret 2012, rasanya masih cukup waktu untuk beralih ke menyelenggarakan pembukuan. Bila tidak cukup waktu, wajib pajak dapat memberitahu secara tertulis perpanjangan waktu penyampaian SPT PPh tahunan yang dapat diberikan paling lama 2 bulan.

Tidak perlu takut berpindah dari norma penghitungan neto ke pembukuan karena tidak seperti  transaksi transfer pricing atau merger yang sering dilakukan wajib pajak menengah ke atas untuk meminimalisasi pajak terutang. (10)

— Drs Satori Adib Sihwadi SE MM, dosen tidak tetap Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang

sumber : Suara Merdeka

Pos ini dipublikasikan di Belajar Pajak dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s