Kenapa Membangun Sendiri Dikenakan PPN?

Ndak salah kalo band rock lawas Guns ‘N Roses membuat lagu November Rain, lagu yang selalu membuat saya teringat Slash, sang gitaris dengan rambut kriwilnya melantunkan nada menyayat hati di depan gereja tersebut cocok dengan cuaca bulan November, hujannya deras, saingan sama deras air matanya Bruno Mars waktu nyanyi lagu It Will Rain. *halah*

Hujan yang deras berbanding lurus dengan cuaca dingin, yang juga berbanding lurus dengan hasrat untuk ngopi, dan seperti biasa, kantong cekak buruh pabrik hanya mampu mengantar saya ke Warung Mbok Darmi.

“Duduk sini Le! Tak traktir kamu, ini sudah tak belikan rokok juga.” Suara dengan nada memerintah yang khas, cuma satu orang yang saya tahu.

“Ada apa Mbah?” Salah satu pelajaran dalam hidup adalah ndak ada kopi dan rokok gratis, bahkan untuk orang selevel juragan macem Mbah Suto. Minimal otak saya yang pas-pasan ini akan disuruh mikir sedikit, bukan karena butuhnya sedikit, tapi karena saya memang ndak mampu mikir banyak.

“Kemaren ada orang pajak datang, nanya apa rumah yang baru tak bangun sudah dibayar PPN-nya. Lha kok aneh? Rumah tak bangun sendiri, beli bahan sendiri, ngawasi tukang sendiri, kok disuruh mbayar pajak?” Mbah Suto ngomel-ngomel.

Saya garuk-garuk kepala, untungnya kok masalah ini saya agak mudheng sedikit, hasil ngobrol sama temen-temen di pabrik yang pernah ngurus soal PPN Kegiatan Membangun Sendiri.

Dulu saya juga sama bingungnya sama Mbah Suto, kenapa saat orang membangun rumah tinggal atau tempat usaha dengan luas tertentu disuruh mbayar PPN? Bukankah salah satu syarat pengenaan PPN adalah ada penjualan Barang Kena Pajak yang dilakukan Pengusaha Kena Pajak? Lha ini ndak beli rumah, mbangun sendiri, dan kadang yang mbangun ini bukan Pengusaha Kena Pajak, kok kena PPN?

“Bener kuwi Le! Kok kena PPN?” Tanya Mbah Suto.

Jawabannya adalah karena PPN merupakan pajak konsumsi, siapa yang melakukan konsumsi maka dia kena PPN. Pengusaha Kena Pajak bukanlah orang yang wajib mbayar PPN, dia cuma mungut pada saat jualan, yang mbayar ya konsumen, orang yang menikmati barang atau jasanya.

“Tapi aku kan ndak beli rumah Le? Aku mbangun sendiri, kok kena PPN?” Mbah Suto masih sengit.

“Tapi kan sampeyan menikmati rumahnya Mbah…”

Konon katanya ada yang disebut penghindaran pajak. Yang seperti ini ndak selalu ilegal, misalnya merokok, lazimnya seorang perokok harus membayar PPN dan cukai untuk setiap batang yang dia hisap, pajak itu dia bayar saat membeli rokok, kecuali perokok macem Kang Noyo yang kemana-mana cuma modal korek, rokoknya minta.

Bisakah sampeyan merokok tapi ndak mbayar PPN dan cukai?

Bisa, sampeyan bisa tingwe alias nglinting dhewe dengan tembakau yang sampeyan tanam sendiri dan dibungkus klobot jagung dari sawahnya tetangga. Ini disebut penghindaran pajak, dan sepenuhnya legal.

Sampeyan saat beli rumah juga seharusnya wajib mbayar PPN, yang dipungut oleh si penjual rumah.

“Tapi bisa diakali, biar ndak mbayar PPN rumahnya jangan beli, bangun saja sendiri.” Ujar Mbah Suto sambil manggut-manggut.

Kurang lebih begitulah yang disebut dalam penjelasan Pasal 16C Undang-undang PPN.

Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya, dikenakan Pajak Pertambahan Nilai dengan pertimbangan untuk mencegah terjadinya penghindaran pengenaan Pajak Pertambahan Nilai.

Jadi biar lebih adil, sama-sama menikmati rumah, sama-sama mbayar PPN.

“Ngomong-ngomong aturan soal KMS sudah berubah lho Mbah.” Kata saya.

Peraturan Menteri Keuangan No 163/PMK.03/2012 memuat dua perubahan pokok, yaitu:

  1. Luas keseluruhan yang kena PPN KMS adalah mulai 200m2, dari sebelumnya 300m2
  2. Tarif efektif 2%, dari sebelumnya 4%

“Oh begitu yo Le, yo wis aku pulang dulu. Kopimu tak bayari, tapi rokoknya ndak jadi tak kasih.” Kata Mbah Suto.

Kok?

“Kamu kan konsumen, seharusnya kalo merokok itu ya mbayar PPN. Kalo mau menghindari PPN, sana kamu nglinting dhewe.” Mbah Suto ngeloyor pergi.

Jiyan!

Pos ini dipublikasikan di Warung Pajak dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Kenapa Membangun Sendiri Dikenakan PPN?

  1. saya pikir anda jenius, KMS itu memang sulit dimengerti bagi orang awam, tapi anda membuat penjelasannya dengan simpel, saya suka tulosan anda, terimakasih ilmunya, terimakasih juga rekomendasinya dari @iqbalsuresh🙂

  2. ppn_pas berkata:

    Koyok e sik mambu kamuflase mudun taripe tapi mundun luase ben penerimaan ga mudhun tp tambah nambah….iso ae koen iku lik…..wkwkwkwkkwkkkk

  3. gerorogunso berkata:

    mulai hari ini saya ctrl+d blog ini😀
    salam dari debt collector kantor 212

  4. bahasane penak dingerteni wong awam,, sante tapi mudengi… hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s