Jurus Anti Mumet : Wajib Pajak Non Efektif

Dua hari ini cuaca panasnya ndak kira-kira, setelah beberapa hari hujan membuat dapur rumah saya kebanjiran karena rembesan air dari genteng, sekarang saya sedikit menyesal kemaren ndak jadi beli kipas angin. Tanggal tua memang membuat dompet saya makin tebal, tapi sayang isinya pecahan yang memprihatinkan, duit seribuan, ndak cukup buat beli kipas angin.

Untungnya Mbok Darmi masih istiqomah, kopi seribuannya belum terpengaruh inflasi, dan di sinilah saya, duduk menyesap kopi pelan-pelan, merenungi hawa panas yang menambah sakitnya derita tanggal tua, sambil berdoa semoga Kang Noyo ndak muncul tiba-tiba. Sampeyan tentu mafhum, dia ini jenis orang yang ndak ada sungkan-sungkannya merampok tiap receh saya yang tersisa.

Untungnya memang saya ndak ketemu Kang Noyo. Yang saya liat di pojokan warung dari tadi cuma Pak Paimo, tetangga yang rumahnya di ujung, sebelah mushola. Sepertinya beliau lagi sumpek, kopinya yang tinggal separo dari tadi ndak disruput blas, cuma merokok saja ndak berhenti-berhenti.

“Tumben Pak, lagi ndak ada garapan?” Saya mencoba basa-basi. Pak Paimo ini kerjanya jadi tukang bangunan, sudah mulai musim hujan, mungkin jarang orang mbangun.

“Yo ngono lah Mas, sudah ndak ada kerjaan, eh lha kok kemaren saya dapet surat dari kantor pajek, disuruh laporan. Laporan opo? Saya ini kan bukan orang kantoran, ndak ngerti soal beginian.” Sahut Pak Paimo, dengan nada galau tingkat dewa.

“Lha kok bisa? Ceritanya gimana?” Tanya saya.

Syahdan, konon ceritanya dulu Pak Paimo ini kongsian sama temen-temennya, gaya-gayaan mbikin perusahaan jasa konstruksi, bentuknya CV.

“Siapa tau kalo Pemkot mbuka tender kita bisa dapet Mas, yang ngurus ya temen-temen saya itu, semua surat-surat sampai ke notaris saya ndak ikut ngurusi. Dasarnya kurang cenel, sampai sekarang ndak pernah menang tender, akhirnya CV saya nganggur, ndak ada yang ngurusi. Lha kok ndilalah alamat yang dipakai itu alamat saya, sekarang kantor pajek nguber-uber saya, mumet!”

“Kalo memang CV-nya sudah ndak aktif minta dihapus saja NPWP-nya Pak, biar ndak jadi beban sampeyan.” Saya mencoba menyarankan.

“Caranya gimana?” Tanya Pak Paimo.

“Sampeyan bikin akte pembubaran ke notaris, trus mbikin permohonan penghapusan NPWP ke kantor pajek.” Jawab saya.

“Notaris? Duit lagi berarti. Duitnya siapa? Wong bayaran sekolah si thole saja sudah nunggak dua bulan.” Keluh Pak Paimo.

Waduh!

Saya mencoba mengingat-ingat, sepertinya ada prosedur yang lebih sederhana untuk masalah ini. Oiya, memang ada, kalo ndak salah namanya permohonan untuk menjadi Wajib Pajak Non Efektif.

Menurut Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor SE-89/PJ/2009, ada tujuh macem kriteria Wajib Pajak yang bisa dinyatakan Non Efektif, diantaranya:

  1. selama 3 (tiga) tahun berturut-turut tidak pernah melakukan pemenuhan kewajiban perpajakan baik berupa pembayaran pajak maupun penyampaian SPT Masa dan/atau SPT Tahunan.
  2. tidak diketahui/ditemukan lagi alamatnya.
  3. Wajib Pajak orang pribadi yang telah meninggal dunia tetapi belum diterima pemberitahuan tertulis secara resmi dari ahli warisnya atau belum mengajukan penghapusan NPWP.
  4. secara nyata tidak menunjukkan adanya kegiatan usaha.
  5. bendahara tidak melakukan pembayaran lagi.
  6. Wajib Pajak badan yang telah bubar tetapi belum ada Akte Pembubarannya atau belum ada penyelesaian likuidasi (bagi badan yang sudah mendapat pengesahan dari instansi yang berwenang).
  7. Wajib Pajak orang pribadi yang bertempat tinggal atau berada atau bekerja di luar negeri lebih dari 183 dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan.

“CV sampeyan berarti termasuk Wajib Pajak badan yang telah bubar tapi belum ada akte pembubarannya Pak, sampeyan ajukan saja permohonan ke kantor pajek.” Kata saya.

“Caranya?” Tanya Pak Paimo.

“Gampang, sampeyan datang saja ke kantor pajek, bawa meterai enam ribu. Nanti di sana sampeyan ngomong sama petugas, minta formulir permohonan WP Non Efektif. Sampeyan ngisi surat pernyataan trus meterainya sampeyan tempel di situ.” Jawab saya.

“Nanti petugas pajek akan melakukan penelitian, mungkin dateng ke rumah sampeyan juga untuk memastikan CV sampeyan memang sudah bubar. Setelah beres semua, kantor pajek akan ngirim surat ke sampeyan, yang isinya menyatakan kalo CV sampeyan sudah berstatus non efektif.” Lanjut saya.

“Trus setelah itu ndak perlu laporan pajek lagi?” Pak Paimo sudah agak sumringah sekarang.

“Ndak usah pak, gampangnya NPWP CV sampeyan sudah dibekukan, ndak wajib lapor bulanan sama tahunan.” Ujar saya.

“Wah, matur nuwun infonya lho Mas, nanti saya urus ke kantor pajek. Wis, saya pulang dulu.” Kata Pak Paimo, nada galau level dewanya sudah ndak terdengar.

“Bareng saja Pak, saya juga sudah mau pulang.” Sahut saya.

“Sik, pulangnya nanti dulu! Sini, mana rokokmu?” Oalah, saya pikir hari ini saya selamet dari orang ini.

Kang Noyo dengan senyum sinis khasnya sudah berdiri di pintu warung.

Jiyan!

Pos ini dipublikasikan di Warung Pajak dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Jurus Anti Mumet : Wajib Pajak Non Efektif

  1. Annas D Human berkata:

    heuheuheu

  2. gagsdoom berkata:

    Josmarkojos…

  3. Alhamdulillah, dapet ilmu lagi. terima kasih untuk infonya, simbah 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s