Wajib Pajak Baru (OPPT)

Suatu hari Wajib Pajak Orang Pribadi yang baru saja mendaftar NPWP menemui saya di meja konseling.

“Selamat pagi Pak, silakan duduk. Ada yang bisa saya bantu?” Sapa dan salam saya (tak lupa juga senyum) menyambut Wajib Pajak.

“Saya baru saja mendaftar NPWP, kewajiban pajak saya apa ?” Tanya Wajib Pajak memulai pembicaraan.

“Bapak kenapa mendaftar NPWP?” Saya balik tanya. Mungkin pertanyaan aneh.

“Saya punya usaha menjual buku, PT tempat saya ambil buku menanyakan NPWP saya. Kemudian saya mendaftar NPWP.” Jawab sang bapak. Kemudian saya meminta kartu NPWP yang ada di tangannya. Saya cek di database. Ternyata namanya DEGEL.

“Bapak Degel memiliki toko buku ya? Nama tokonya apa pak?” Tanya saya nyrocos saja

“Bukan Pak, saya nyuplai ke sekolah-sekolah.” Jawabnya.

“Oo gitu, usaha Bapak penjualan buku, berarti telah memenuhi kriteria sebagai Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu. Bapak berkewajiban melakukan pembayaran PPh Pasal 25 secara bulanan dan nanti setelah tutup tahun, penghasilan Bapak direkap, dihitung lagi.” Penjelasan saya singkat, padat dan tidak tahu Pak Degel paham apa tidak.

“Maksudnya gimana sih Pak?” Tanya lagi bapak tadi dengan raut muka agak serius tanda dia masih bingung. Dugaan saya benar penjelasan saya tadi membingungkan.

“Kewajiban pajak bapak ada 2, yaitu bulanan dan tahunan. Bulanan maksudnya omzet setiap bulan direkap, bulan depannya dihitung dikali dengan 0,75%.Contoh: Bulan Januari 2013 omzet bapak Rp20.000.000,00 berarti PPh-nya = 0,75% x Rp20.000.000,00 = Rp150.000,00. Jumlah ini dibayar paling lambat 15 Februari 2013. Kemudian misalkan bulan Februari 2013 omzet bapak Rp30.000.000,00 berarti PPh-nya = 0,75% x Rp30.000.000,00 = Rp225.000,00. Jumlah ini dibayar paling lambat 15 Maret 2013. Kewajiban ini disebut PPh Pasal 25. Kalau kewajiban tahunan maksudnya nanti di awal tahun 2014 total penghasilan tahun 2013 khan udah diketahui. Nanti Bapak menghitung lagi dan melaporkannya menggunakan formulir SPT Tahunan.” Demikian penjelasan saya kepada Bapak Degel sambil membuat coretan di selembar kertas. Tampak Bapak Degel terdiam sejenak sambil matanya tertuju pada coretan-coretan saya. Mencoba memahami. Saya juga berharap tulisan saya bisa dibaca Pak Degel.

“SPT Tahunan itu apa Pak?” tanyanya lagi.

“SPT Tahunan itu singkatan Surat Pemberitahuan maksudnya surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau harta dan hutang. Penghasilan bapak nanti dalam satu tahun direkap kemudian dihitung lagi pajak dan dilaporkan dengan sarana formulir SPT Tahunan tadi.” Saya menjelaskan sedikit tekstual.

“Lho, tadi secara bulanan penghasilan saya khan sudah dipajaki masa akhir tahun nanti dipajaki lagi?” Pak Degel sedikit memprotes penjelasan saya.

“Oiya, maaf pak saya tadi lupa menjelaskan bahwa nanti pajak bulanan atau PPh Pasal 25 akan dilaporkan pula di SPT Tahunan dan nanti akan menjadi pengurang PPh atau disebut kredit pajak.” Saya memberikan penjelasan lagi. “Atau begini saja Pak Degel, nanti di awal tahun 2014 Bapak ke Kantor Pajak lagi. Nanti kami akan memberikan bimbingan penghitungan dan pengisian SPT Tahunan. Untuk saat ini kewajibanan bapak cukup membayar PPh Pasal 25 saja dulu.” Saya menambahkan lagi. Ingat perkataan salah satu kawan kalau memberikan konseling kepada Wajib Pajak materinya jangan terlalu banyak. Takut Wajib Pajak bukannyan tambah jelas tapi malah tambah bingung.

“Jadi untuk saat ini kewajiban saya gimana Pak?”. Pak Degel tampaknya setuju dengan usulan saya.

“Sederhananya seperti tadi Pak. Membayar PPh Pasal 25 setiap bulan. Oiya kewajiban PPh tadi bisa Bapak baca dalam leaflet ini.” Saya menyodorkan leaflet.

“Oh ya Pak saya membayar pajak caranya gimana?” Pak Degel bertanya lagi. Semoga ini bukan hanya pertanyaan kosong, maksudnya nanti dia benar-benar akan membayar pajaknya.

“Bapak membayarnya menggunakan SSP.” Saya mengambilkan SSP yang berada di lemari samping tempat duduk saya. “Bapak nanti tulis NPWP, Nama dan seterusnya di SSP ini.” Telunjuk saya membimbing mata Pak Degel mengarah ke lembar SSP. “Kode Akun Pajak nanti diisi 411125 dan Kode Jenis Setoran diisi 101.” Imbuh saya lagi dan sambil menuliskannya di lembar kertas agar tidak dilupakan Pak Degel.

“Nanti bayarnya di mana Pak?” Tanya Pak Degel lagi.

“Bapak bisa membayarnya di Bank Persepsi terdekat seperti BRI, Bank Jatim, Bank Mandiri atau Kantor Pos terdekat. Sebenarnya PPh Pasal 25 ini dilaporkan ke Kantor Pajak setiap bulannya. Tapi di aturan kita kalau sudah dibayarkan di Bank dan mendapat validasi NTPN sudah dianggap dilaporkan jadi tidak perlu melapor lagi ke Kantor Pajak.” Saya menjelaskan lagi. Sejenak Pak Degel terdiam sambil melihat-lihat leaflet yang telah saya berikan tadi.

“Pak, terima kasih atas penjelasan tadi. Saya rasa sudah cukup banyak mendapat penjelasan.” Pak Degel tiba-tiba menutup pembicaraan.

“Sama-sama Pak, Pak Degel silakan datang kembali ke Kantor Pajak kalau membutuhkan penjelasan lagi. Atau Bapak bisa menelpon di nomor telepon yang ada di leaflet tadi Pak.” Saya menyerahkan SSP coretan-coretan di lembar kertas tadi. Semoga bermanfaat.

Nawan Endro Santoso

Pasuruan, 11 Februari 2013

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja. Cerita di atas hanya fiktif belaka, mohon maaf apabila ada kesamaan tokoh, tempat dan suasana.

Pos ini dipublikasikan di Belajar Pajak dan tag , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Wajib Pajak Baru (OPPT)

  1. pepen berkata:

    goodjob welldone

  2. Ping balik: Pajaknya Wajib Pajak Orang Pribadi Baru | KPP Pratama Pasuruan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s