Pajak dan Sebungkus Rokok

“Mas, buatkan saya kode billing, ya. Saya mau mbayar pajak, sepuluh ribu sebulan,” kata seorang wajib pajak kepada saya.

Saya terdiam sesaat. Bukan karena hilangnya kata tolong dalam kalimat si wajib pajak, juga bukan karena nominalnya yang cuma sepuluh ribu. Sampeyan mungkin juga tahu, nilai pajak yang dibayar menurut aturan di negara kita ditentukan sendiri oleh wajib pajak. Mau mbayar sepuluh ribu atau semiliar monggo saja, yang penting sesuai dengan keadaan sebenarnya. Saya terdiam karena melihat sebungkus rokok di saku kemeja si wajib pajak.

“Njenengan usahanya apa, Pak?” tanya saya.

“Jualan baju,” jawab si wajib pajak.

Ooo… bunder. Dengan jenis usaha jualan baju, mbayar pajak sepuluh ribu artinya beliau menyatakan penghasilan kotor sebulan adalah satu juta rupiah. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 46 Tahun 2013 yang sebentar lagi bakal diganti dengan PP No 23 Tahun 2018 pajak penghasilan dari usaha dengan batasan bla bla bla adalah sebesar satu persen dari omset kotor.

Saya ndak sedang berusaha bilang benar dan salahnya si wajib pajak. Kebenaran itu kan miliknya Gusti Allah. Tapi seendak-endaknya kan ada hitungan wajar.

“Njenengan rokoknya apa, Pak?” tanya saya lagi.

“Sam***** M***.”

“Berapa sebungkus?”

“Duapuluh ribu.”

Saya tersenyum lalu bilang, “Misalnya sebungkus untuk dua hari, berarti Njenengan habis 300.000 untuk rokok, sesuatu yang ndak wajib dan cuma bisa Njenengan nikmati sendiri. Lha ini pajak yang diwajibkan dan manfaatnya untuk orang banyak, mosok Njenengan cuma mbayar 10.000?”

Nada bicara si wajib pajak naik setengah nada, “Ndak bisa begitu dong ngitungnya. Yang saya bayar tiap bulan kan ndak cuma pajak. Ini saya sudah punya niat baik mbayar. Jangan dipersulit!”

Saya tersenyum makin lebar, walaupun dalam hati agak mengutuk juga. Bukan mengutuk si wajib pajak, tapi mengutuk ruangan kerja. Kadang saya berpikir dalam kondisi tertentu lebih enak ngomong sama wajib pajak semacam ini, “Ojo nesu sik, Pak. Ayo disumet dhisik rokoke. Perlu tak buatkan kopi, piye?”

Si wajib pajak ndak salah ngomong seperti itu, cuma kurang pas. Kalo kalimat si bapak tadi saya bawa ke contoh yang lain secara ekstrim, saya bisa bilang, “Ndak usah nanya kenapa sholat yang cuma lima menit saja saya ndak sempat, sementara untuk ngopi dua jam saya bisa. Waktu saya kan ndak cuma saya habiskan untuk ngopi.”

Maksudnya apa?

Kurang pas menempatkan prioritas, itu saja. Mana yang wajib, mana sunnah, mubah, makruh, haram, kadang kebolak-balik urutannya. Lebih ciloko maneh, dibungkus dengan frasa “yang penting niat.”

Memang benar innamal a’malu binniyat, sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Tapi kalo sampeyan ingat pelajaran agama jaman diniyah dulu, yang diajarkan itu bukan cuma niat. Ada juga syarat dan rukunnya, kapan diwajibkan dan bagaimana cara menjalankannya. Niat akan lebih pas kalo dimaknai semacam: manusia hanya akan mendapatkan sebatas yang diniatkannya.

Namun, bagaimanapun saya harus mengucapkan terima kasih kepada si wajib pajak yang telah mengingatkan bahwa dalam hidup ini selalu ada beberapa golongan. Ndak cuma dalam membayar pajak, namun juga dalam banyak perbuatan lainnya.

Tipe pertama, golongan yang percaya bahwa membayar pajak itu levelnya semacam sunah, dilakukan ndak papa, ndak dilakukan ya ndak papa. Wong selama ini saya ndak mbayar pajak dan negara baik-baik saja.

Tipe kedua, semacam fardhu kifayah, ndak semua harus melakukan, cukup perwakilan saja. Misalnya saya ndak mbayar pajak ya ndak papa, yang penting yang lain mbayar. Tipe yang ini kadang menghibur diri dengan kalimat, “Yang penting sudah niat membantu”. Semacam penyebar link kitabisa atau rumah zakat tapi ndak pernah donasi.

Tipe ketiga, semacam fardhu ‘ain, mau ndak mau harus dilakukan tapi yang levelnya baru sebatas menggugurkan kewajiban. Yang penting saya sudah mbayar. Mirip kalo sampeyan sampeyan diundang resepsi nikahan trus nyumbang Rp 50.000 tapi datangnya berempat. Ndak peduli kalo yang punya hajat mesen kateringnya dihitung Rp 26.000 per kepala.

Tipe keempat, semacam fardhu ‘ain yang dilakukan dengan penuh kekhusyu’an. Lha ini yang ndak semua orang bisa. Melakukan sesuatu yang ndak cuma abang-abang lambe. Orang yang melakukan sesuatu karena yakin bahwa sebagaimana rejeki takkan tertukar, kebaikan juga tak bisa diwakilkan.

Sekali lagi bukan soal benar salah, wong kebenaran sejati kuwi hanya milik tuhan. Namun, boleh tho sesekali mempertanyakan kewajaran?

Lalu saya termenung sendiri, saya masuk golongan yang mana?

Pos ini dipublikasikan di Warung Pajak dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s